Kamu pasti pernah dengar kalimat legendaris ini:
“Belajar yang rajin biar nilai kamu bagus, terus bisa kerja.”
Kalimat yang dulu sering banget kita dengar dari orang tua, guru, bahkan motivator sekolah. Tapi sekarang, kalimat itu seakan kalah pamor sama jargon-jargon “nyeleneh” kayak:
“Orang pinter jadi budaknya orang goblok.”
“Percuma pinter, ujung-ujungnya kerja buat orang lain.”
“Anak IPA kalah sama anak IPS kalau urusan duit.”
Lucunya, di Indonesia pandangan ini justru makin sering diulang. Banyak orang percaya bahwa lebih baik jadi orang yang nggak pintar-pintar amat tapi punya skill ngomong dan dagang, daripada juara kelas tapi nggak bisa “nyari duit.”
Masalahnya, bener nggak sih kalau si bodoh di sekolah pasti bakal kaya?
Kita harus adil dulu: memang benar, nilai sekolah nggak selalu jadi penentu kesuksesan.
Contoh paling gampang? Bill Gates. Ia bahkan nggak sempat lulus dari Harvard, tapi sekarang jadi salah satu orang terkaya di dunia. Atau teman kita sendiri yang dulu sering bolos ke warnet, tapi sekarang malah sukses buka bisnis online. Sementara yang dulu rajin banget dan sering kasih contekan, malah kerja di bawahnya.
Selain itu, nggak semua orang memang cocok di bidang akademik. Ada yang jago ngoding, tapi nilai matematikanya pas-pasan. Ada yang berbakat main musik, desain, atau bisnis, tapi nggak tahan pelajaran teori.
Jadi, kalimat “orang bodoh di sekolah bisa sukses” kadang bisa jadi pengingat buat mereka yang nilainya nggak bagus: nilai jelek bukan akhir dari segalanya.
Masalahnya, kalimat itu sering jadi alasan untuk malas.
Banyak yang menjadikan “si bodoh bisa kaya” sebagai pembenaran buat nggak belajar serius. Mereka ngerasa nggak perlu usaha karena “orang pintar pun nanti kerja buat orang goblok.” Akhirnya ya gitu bolos sekolah, nongkrong, main warnet, atau sibuk hal yang nggak produktif.
Padahal, yang sukses tanpa nilai bagus itu bukan karena mereka malas. Mereka tetap kerja keras, cuma jalurnya aja yang beda.
Kalimat “si bodoh bisa kaya” juga berpotensi meremehkan mereka yang memang berbakat di akademik.
Bayangin ada siswa bernama Budi yang sebenarnya jenius di matematika, tapi karena sering dengar omongan itu, dia malah minder. Bakatnya nggak dikembangkan dan akhirnya tenggelam.
Padahal, nggak semua kesuksesan diukur dari uang. Ada yang merasa sukses saat bisa meneliti, mengajar, atau menciptakan sesuatu yang berguna. Jadi, ketika seseorang bilang “ngapain pintar, yang penting kaya,” itu cuma menggambarkan cara pandang yang sempit tentang makna sukses.
Faktanya, si pintar belum tentu gagal, dan si bodoh belum tentu kaya.
Albert Einstein, yang sering dibilang “bodoh waktu sekolah,” ternyata cuma korban kesalahpahaman nilai padahal dia memang jenius sejak kecil.
Artinya, semua kembali ke usaha, kerja keras, dan arah hidup masing-masing.
Bukan tentang kamu tim IPA, IPS, atau “anak nakal tapi kaya.”
Yang penting: kamu tahu apa yang kamu mau, dan kamu jalanin dengan serius.
Kalimat “si bodoh di sekolah pasti bakal kaya” memang enak didengar, tapi jangan ditelan mentah-mentah.
Kadang benar, kadang cuma alasan buat males belajar.
Jadi, mau kamu jago akademik atau enggak, fokus aja ke satu hal: jadi versi terbaik dari diri sendiri.
Toh, yang menentukan masa depan bukan nilai di rapor, tapi nilai dari usaha yang terus kamu lakukan.