Aku sedang malas menulis. Ya, aku memang sedang malas menulis. Aku lebih sering menghabiskan waktu luangku untuk scrolling TikTok.
Padahal, isi kepalaku penuh dengan hal-hal yang ingin segera kukeluarkan. Misalnya, tentang tren TikTok di mana orang-orang menyindir mereka yang lahir tahun 2004 ke atas tapi sudah menikah, sementara yang lahir 1999 ke bawah masih sibuk bermain Mobile Legends, bermain ini dan itu.
Maksudku, apakah mereka tidak percaya pada takdir Tuhan? Rezeki, jodoh, dan maut itu sudah ditetapkan untuk masing-masing orang. Kalau belum menikah, berarti memang belum bertemu jodohnya. Tapi kamu masih diberi rezeki, masih bisa bernapas, dan masih sehat. Bersyukurlah daripada mengeluh.
Karena mereka yang menikah adalah orang-orang yang berani meninggalkan zina.
Ada juga pemikiranku yang mengira bahwa TikTok Live lebih parah daripada Bigo Live. Ya, tidak usah munafik, aku pernah menggunakan aplikasi Bigo Live, bahkan sempat menjadi spender di sana.
Namun, tidak semua orang bisa mengakses Bigo dengan mudah karena harus mengunduh aplikasinya terlebih dahulu. Sebagian anak-anak mungkin tidak tahu, atau berpikir untuk apa mengunduh aplikasi yang hanya memenuhi penyimpanan ponsel. Jadi, sangat jarang anak-anak kecil yang menggunakan Bigo.
Sementara itu, TikTok meskipun memiliki kebijakan bahwa pengguna harus berusia 18 tahun ke atas untuk membuat akun, tetap saja bisa dipalsukan. Namanya juga media sosial. Jadi bisa dipastikan banyak remaja baru gede di aplikasi TikTok ini. Dan yang namanya bocah, pasti memiliki rasa penasaran terhadap lawan jenis. Ironisnya, di TikTok ajakan seksual bisa diblokir, tapi joget-joget sensual tetap saja bisa masuk FYP.
Berawal dari FYP, akhirnya mereka makin sering mengikuti akun lawan jenis. Lalu algoritma TikTok akan menyarankan akun-akun serupa dengan yang diikuti.

Dan boom! Ketika melihat Live langsung di malam hari, ada banyak sekali streamer atau host TikTok perempuan yang tampil terbuka. Selama tidak terlalu vulgar, TikTok tidak akan memblokirnya.
Di TikTok Live banyak sekali yang membuka jasa “coin = show ketiak”, atau bahasa halusnya “angkat tangan”. Tarifnya beragam, mulai dari 30 coin, 50 coin, hingga 200 coin per menit. Dari situlah mulai tumbuh rasa penasaran baru bagi para remaja, hingga muncul kelainan seksual yang disebut armpit fetish.
TikTok Live sendiri sangat beragam. Ada yang Live untuk berjualan, ada yang iseng karena gabut, ada pula yang mencari uang dengan cara instan seperti itu, bahkan ada yang terpaksa melakukan Live langsung demi memenuhi kebutuhan hidup. Dari situ terlihat perbedaan kualitas baik dari koneksi internet maupun dari kualitas videonya.
Muncullah pikiranku yang lain. Awalnya aku kira semua yang melakukan “Live Angkat Tangan” itu rata-rata masih lajang, pacaran ala-ala ABG, atau janda yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup karena belum ada penghasilan ataupun mencari penghasilan tambahan. Tapi ternyata aku salah. Nyatanya, ada juga yang sudah menikah dan hampir setiap malam masih melakukan “Live Angkat Tangan” tersebut.
Aku berpikir, apakah suaminya tidak masalah melihat istrinya berpakaian terbuka di depan banyak orang? Atau apakah uang bulanan mereka kurang? Padahal, rumah atau kamar yang ditempati para host tersebut terlihat bagus, bahkan mewah. Jadi, kenapa suaminya diam saja?
Muncul lagi pikiranku: apakah itu yang disebut silent treatment? Istrinya mungkin terlihat cantik dan menggoda bagi orang lain, tapi di mata suami sudah biasa saja. Atau mereka hanya bertahan bersama-sama demi kebahagiaan keluarga?
Ah, kenapa juga aku repot-repot memikirkan masalah orang lain. Itu kan urusan mereka, bukan urusanku.
Tapi jujur, rasanya lucu juga. Dulu, kalau mau “ngintip”, harus berjuang ke sungai, ke semak-semak. Kalau mau menggoda cewek, ya harus keluar rumah dan pandai bersiul.
Sekarang? Cukup dengan modal internet dan aplikasi TikTok, semuanya jadi mudah. Mau ngintip atau menggoda, tinggal klik saja.