Kalau kau melakukan kejahatan kepada orang yang bisa membalas, urusanmu selesai: kejahatan dibalas dengan kejahatan.
Tetapi bila kau menyakiti mereka yang tak mampu membalas, alam semestalah yang kelak membalas dan bila alam semesta yang bertindak, saksikanlah saat balasan itu datang.
Kepada para koruptor di manapun kalian berada,
Mungkin kalian terlalu sibuk mengumpulkan keuntungan sehingga tidak akan pernah membaca catatan ini. Namun aku menulis bukan untuk menjatuhkan, melainkan karena keyakinan: niat baik tak pernah hilang sia-sia; kata yang benar akan menemukan jalan. Mungkin, entah bagaimana, kata-kata ini sampai juga kepada kalian.
Aku tidak menginginkan kalian dipenjara. Serius. Tapi aku juga tidak meminimkan toleransi terhadap kerusakan yang kalian timbulkan. Korupsi adalah kejahatan sistemik yang melahirkan rantai penderitaan: semakin tinggi jabatan yang kau korupsi, semakin panjang dampaknya bagi orang banyak. Penangkapan dan hukuman negara kadang terasa ringan bila dibandingkan dengan besarnya kerusakan yang kalian timbulkan. Dan ketika sistem pengadilan sendiri dirusak, siapa lagi yang bisa diharapkan memberi keadilan?
Karena itu aku memilih berdoa kupanjatkan harap agar kalian cepat sadar dan mengembalikan segala yang kalian rampas. Taubat tanpa restitusi bukan tanda penebusan. Kembalikan yang bukan hakmu; itu bentuk pertobatan yang bermakna.
Namun bila doa baikku tak menjamah nuranimu, maka ingatlah: ada hukum yang tak bisa kau suap, tak bisa kau elakkan hukum alam semesta. Beberapa menyebutnya karma, yang lain menyebutnya serendipity; aku menyebutnya aturan main alam. Kau boleh menipu manusia, menyembunyikan jejakmu, bahkan meredam sistem hukum dengan uang hasil perbuatanmu tapi tatapan alam semesta tidak bisa kau elak.
Setiap perbuatan menabur benih. Benih buruk akan tumbuh menjadi buah yang sama pahitnya. Jika kau mencuri dari rakyat, pada akhirnya sesuatu akan diambil darimu: mungkin kesehatanmu, mungkin ketenteraman keluarga, mungkin kemerdekaanmu, mungkin waktu hidupmu. “Tuhan tidak tidur,” kata orang. Benar: alam tak pernah berhenti menata keseimbangan.
Jadi duduklah sejenak. Ingat mereka yang kau rugikan. Perhatikan mereka yang melakukan korupsi sebelumnya: beberapa lolos dari pengadilan manusia, namun tak pernah lolos dari akibat yang menggumpal dalam hidupnya penyakit, kehancuran rumah tangga, rasa bersalah yang menggerogoti.
Kalian boleh menilai diri kalian aman hari ini, tapi jangan naif. Alam semesta membalas pada waktu yang tak terduga. Jangan berharap uang bisa menukar segalanya; ada harga yang tak mungkin dibeli. Jika hukum manusia tak memberi jawaban, percayalah, ada perhitungan lain yang lebih adil dan menyakitkan bagi pelaku yang tak pernah menyesal.
Aku terluka dan aku bukan satu-satunya. Suara jutaan jiwa yang dirugikan adalah duka yang memaksa alam untuk bertindak. Bila doa kami tak sampai mengubah hatimu, biarlah doa kami menjadi saksi, dan biarlah alam semesta menegakkan keseimbangan.
Untuk kalian, para koruptor: Semoga kalian diberi kesempatan untuk sadar, memperbaiki, dan mengembalikan yang telah kalian ambil. Jika tidak, waspadalah karena tidak ada kejahatan yang abadi, dan tidak ada pengkhianatan yang luput dari pembalasan. Demi keadilan, demi mereka yang teraniaya, demi masa depan yang adil, aku bersumpah: pembalasan pasti tiba.