Pernah denger kan pepatah, “Kamu adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering kamu temui”?
Nah, kalimat itu nggak salah! Siapa yang sering bareng kamu, ngobrol sama kamu, nongkrong sama kamu, mereka semua punya pengaruh besar banget ke arah hidupmu.
Kalau kamu dikelilingi orang yang positive vibes only, kamu bakal sering denger kata-kata semangat kayak:
“Emang hidup itu susah, tapi bukan berarti kamu nggak bisa sukses.”
“Semua orang berjuang, tapi yang pantang nyerah pasti sampai.”
“Hidup ini indah kalau kamu mau nikmatin.”
Tapi kalau kamu sering nongkrong sama orang yang pikirannya negatif, yang kebanyakan ngeluh dan nyalahin nasib, yang kamu denger malah begini:
“Udahlah, ngapain usaha, toh tetep aja gagal.”
“Hidup tuh nggak adil, bro. Yang kaya makin kaya, yang susah makin susah.”
“Sukses itu cuma buat orang-orang beruntung.”
Lama-lama, tanpa sadar, kamu nyerap energi mereka juga. Pikiran kamu ikut turun, semangatmu ikut redup.
Makanya, penting banget buat filter circle pertemananmu.
Bukan berarti jadi pilih-pilih teman, tapi sadar aja: energi dan mindset itu nular.
Kalau pengen jadi versi terbaik dari diri sendiri, ya kamu harus deket sama orang yang bantu kamu ke arah sana.
Kayak kata Henry Ford, pencipta mobil legendaris itu:
“Teman terbaik adalah orang yang bisa memunculkan sisi terbaik dalam dirimu.”
Dan pepatah Cina kuno juga bilang:
“Hidup kita sebagian dibentuk oleh pilihan kita, dan sebagian lagi oleh teman yang kita pilih.”
Sederhana tapi dalem banget, kan?
Kamu bisa lihat contohnya dari hal kecil. Kita bisa jadi sehat atau sakit tergantung makanan yang kita pilih.
Begitu juga dengan mental kita bisa tumbuh kuat atau malah lemah, tergantung asupan pikiran dan lingkungan yang kita konsumsi setiap hari.
George Eliot pernah bilang,
“Kekuatan terbesar dalam perkembangan manusia terletak pada pilihan yang dia buat.”
Artinya, hidup kamu sepenuhnya hasil dari keputusanmu sendiri. Dan salah satu keputusan paling penting adalah siapa yang kamu jadikan teman.
Jadi, coba deh refleksi sebentar:
Circle kamu sekarang lebih sering ngeracunin kamu dengan keluhan atau nyemangatin kamu buat maju?
Kalau jawabannya yang pertama, mungkin sudah waktunya kamu “detoks pertemanan”.
Soalnya, kayak pepatah bilang,
“Kalau kamu deket sama penjual parfum, kamu bakal ikut wangi. Tapi kalau deket sama pandai besi, ya siap-siap ketularan bau besi.”
Dan satu analogi yang paling ngena
Kulit kambing bisa punya nasib beda tergantung siapa temannya.
Kalau dia jadi bedug, tiap hari dipukul. Tapi kalau jadi sampul kitab suci, tiap hari dicium penuh hormat.
Jadi bukan kulitnya yang salah… tapi pilihan temannya.
Dan begitu juga kita.