Sebuah Surat Untuk Para Perokok   October 18, 2025
Tags:

Saat ini hampir semua orang adalah perokok, Main game ngerokok, kerja ngerokok, nongkrong ngerokok, gitar-gitaran ngerokok. Semua aktivitas entah sedang melakukan atau sesudah melakukan pasti merokok.

Tidak pandang gender, laki-laki atau perempuan. Saya sendiri dahulu merokok.

Kalau ditanya kenapa merokok? jawabannya adalah biar dibilang hebat, keren ataupun ya supaya masuk dalam golongan circle tertentu.

Karna kalau lagi nongkrong gak ngerokok itu bingung mau ngapain, kegiatan selain ngobrol adalah merokok, karna ketika merokok kita bisa ikut bahasan tertentu tanpa harus berbicara. Kalau ditanya enaknya dimana, buat saya pribadi gak ada.

Saya sudah merokok mungkin lebih dari 5 tahun, tetapi saya tidak merokok ketika dirumah, ketika sedang main game, ketika sedang kerja, apapun itu yang tidak ada kaitannya dengan teman-teman atau nongkrong ya saya tidak merokok.

Bahkan saya bisa makan lalu minum seperti biasa, tanpa harus bilang “Ahhh sepet banget nih mulut” Yang akhirnya nanti merokok.

Bahkan orang disekitar saya, saya tanyakan, “Gimana kalau kamu berhenti ngerokok ?”

Jawabnya rata-rata “Mati kalau ga ada rokok” “Gak enak kalau gak ngerokok, rasanya mulut gak ada rasa”

Sebenernya saya gak pernah ada masalah sama perokok, bahkan saya bisa-bisa aja menjadi perokok pasif ditongkrongan ketika emang saya tidak ingin merokok.

Meski ditawarinpun ya saya bisa tolak.

Tetapi ketika saya memutuskan untuk menikah, semuanya berubah. Saya langsung berhenti merokok total tanpa harus berdrama-drama pusing atau gimana, karna emang bagi saya rokok itu ga ada enaknya, jadi cukup mudah buat saya berhenti merokok.

Bahkan ketika saya nongkrong ataupun saat teman-teman saya main kerumah dan merokok, saya tetap tidak ikut merokok.

Dan ketika anak saya lahir, rasanya saya menjadi benci sekali dengan perokok, dimana asapnya sudah pasti bikin orang lain (yang gak terbaisa) batuk-batuk dan nantinya menjadi penyakit (lama-kelamaan).

Cuma perokok ini suka gak sadar, seperti; yang bahaya itu bukan hanya saat sedang menghisap rokok (saat itu juga) tetapi setelah merokok juga, kita tidak tahu bahwa abunya menempel dimana, dimulutnya (sudah jelas), ditangan, dibajunya. Tetapi mereka tetap saja menyentuh atau menggendong anak (bayi) dengan semau mereka, padahal bayi sistem pernafasannya masih sangat lemah, dan kalaupun sudah dewasa perokok pasif akan tetap bisa terkena efek tersebut.

Makannya saya setelah bertemu teman yang merokok pasti saat pulang mandi dahulu sebelum ketemu anak saya, saya bersih-bersih badan saya berusaha agar tidak ada bekas rokok (abu) yang masih menempel diseluruh badan saya. Tetapi orang-orang dengan mudahnya sehabis merokok langsung pegang anaknya.

Bahkan saya pernah imunisasi, dan bertemu dengan bapak-bapak yang merokok sambil bawa anaknya. Maksud saya apa gak bisa punya rasa kepedulian atau rasa sayang bahkan sama anak sendiri.

Yang lebih parah biasanya diacara-acara. Saya sebut saja saat kondangan / hajatan. Perokok itu bisa bebas merokok dimanapun bahkan saat disebelahnya ada anak kecil ataupun ibu-ibu. Gue rasa rokok juga bahaya untuk masa depan orang (yang merokok ataupun yang menghirup asapnya) tetapi orang-orang selalu berlindung dibalik kata “Ngerokok, gak ngerokok tetap mati juga nantinya”

Ya emang akan tetap mati, tapi siapa yang mau matinya sakit-sakitan.

Ketika disuruh berhentipun pasti mereka punya seribu-satu alasan untuk mengatakan bahwa ada bahaya lain selain rokok yang lebih membahayakan. Aneh

Saya gak masalah kalian merokok, asal jangan dinyalain, dan kalaupun dinyalain, silahkan asapnya ditelan.

Blog Terkait

© 2025 Aung Ramadhan. All Rights Reserved.
Powered by Indotify