Ada sebuah kisah yang setiap kali saya ingat, selalu membuat saya tersenyum sekaligus merenung.
Tentang seorang lelaki yang berbaring santai di tepi pantai, menikmati debur ombak dan hembusan angin laut.
Tiba-tiba datang seorang lelaki lain, berjalan tergesa-gesa, seolah dikejar waktu. Melihat lelaki santai itu, ia pun menegur,
“Kenapa Anda bermalas-malasan saja? Kenapa tidak bekerja?”
“Kerja? Untuk apa?” tanya lelaki pertama, masih dengan tenangnya.
“Dengan bekerja, Anda bisa mendapat uang.”
“Uang? Untuk apa?”
“Untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda. Lalu bisa menabung, menjamin masa depan, dan pada akhirnya Anda bisa bersantai menikmati angin pantai.”
Lelaki pertama tersenyum tipis.
“Lho, Anda pikir saya ini sekarang sedang apa?”
Kisah sederhana itu selalu berhasil menampar kesadaran saya. Betapa mudahnya kita terjebak dalam ironi: bekerja keras sepanjang hidup hanya untuk mencapai ketenangan yang sebenarnya bisa kita rasakan hari ini, kalau saja kita mau berhenti sejenak.
Kita hidup di zaman yang terburu-buru. Di kota-kota besar, banyak orang harus berangkat kerja sebelum matahari terbit, hanya agar tak terjebak macet dan tidak terlambat. Dalam kesibukan yang menumpuk, kita kehilangan sesuatu yang penting: ketenangan. Kita ingin segala hal selesai cepat: masalah, ambisi, bahkan kebahagiaan.
Padahal, hidup ini lebih mirip jam pasir.
Butir-butir pasir di bagian atas tidak bisa sekaligus jatuh ke bawah. Ia melewati leher sempitnya satu per satu, dengan sabar, dengan ritme yang pasti. Jika kita memaksa agar semua pasir jatuh bersamaan, jam pasir itu akan pecah.
Begitulah cara hidup bekerja. Setiap tugas, setiap persoalan, setiap impian semuanya punya gilirannya sendiri untuk melewati “leher sempit” kehidupan. Bila kita memaksa menyelesaikan semuanya sekaligus, kita hanya akan merusak diri sendiri: pikiran lelah, tubuh rapuh, hati kering.
Pernahkah kamu melambat sejenak?
Bukan karena lelah, tapi karena ingin benar-benar merasakan hidup.
Ketika saya belajar memperlambat langkah, dunia tiba-tiba terlihat berbeda. Bunga-bunga di halaman yang dulu luput dari pandangan, ternyata bermekaran indah. Suara burung di ranting yang dulu tak terdengar, kini terdengar bagai musik lembut di telinga. Bahkan bulan di langit malam, yang selama ini hanya jadi latar, kini tampak luar biasa cantik.
Filsuf Amerika, Ralph Waldo Emerson, pernah berkata:
“Jika bintang-bintang di langit hanya muncul sekali dalam seribu tahun, manusia akan terpesona dan mengabadikan keindahannya. Namun karena bintang itu muncul setiap malam, kita berhenti mengaguminya.”
Yang setiap hari hadir di depan mata, justru sering kita abaikan. Padahal, hidup yang kita jalani sekarang dengan segala kesederhanaannya adalah keajaiban yang tidak akan terulang.
Maka, sesibuk apa pun kita, ingatlah untuk sejenak mencium harum bunga mawar.
Berhenti sejenak. Lihat sekeliling. Hirup napas dalam-dalam.
Karena barangkali, kebahagiaan yang kita kejar jauh ke depan itu,
sebenarnya sudah lama berdiri diam di samping kitamenunggu untuk disadari.