Empat Luka Merah Beruntun   October 28, 2025
Tags:

Waktu menggeliat dalam sunyi.
Strip merah yang melekat di dada para pejuang Liverpool tak lagi menjamin kemenangan. Musim lalu mereka berdansa di puncak langit, namun kini langkah kaki terasa berat. Sorak-sorai yang biasanya menggema berubah lirih. Di ruang ganti, bisu bukan hanya milik pelatih, tetapi juga menyelimuti seluruh ruangan. Bahkan suara napas pun terdengar seperti penyesalan.

Mohamed Salah masih berlari, masih menggiring bola dengan keyakinan yang hampir abadi. Namun di musim yang berputar muram ini, empat kekalahan telah menoreh luka pada sejarah yang biasanya megah. Gol demi gol yang dulu menjadi nyanyian kemenangan kini hanya gema yang terpantul dari masa lalu.

Di lapangan mana pun mereka berjuang, entah di bawah cahaya stadion lawan atau di langit sendiri rumput hijau seakan memudar, menjadi saksi bisu dari tim yang tengah mencari jati dirinya kembali.

Florian Wirtz, dengan langkah muda dan nyala api yang masih segar, namun api itu terlalu kecil, nyaris tak mampu membakar selembar kertas pun.
Alexander Isak, sosok baru dalam warna merah, menatap bola seolah menatap harapan. Tetapi terkadang, bahkan api pun kalah oleh angin musim yang kejam.

Lalu malam pun turun.
Bukan hanya malam dalam waktu, tapi juga malam dalam makna. Di dalamnya, Liverpool tak sekadar kalah di papan skor, mereka sedang diuji oleh takdirnya sendiri.
Empat luka, empat kali jatuh, namun barangkali inilah empat anak tangga menuju kebangkitan yang baru.

Karena merah tidak diciptakan untuk menyerah. Ia adalah warna darah, warna nyali, warna keyakinan yang bertahan ketika kemenangan tak lagi bersahabat. Setiap kekalahan adalah batu yang menajamkan tekad, dan setiap sorotan mata kecewa di tribun adalah doa yang tetap menyala.

Malam ini mungkin suram, tetapi matahari tidak berhenti terbit.
Dan Liverpool, sebagaimana selalu, akan bangkit bukan karena mereka belum pernah kalah, tetapi karena mereka tidak pernah berhenti mencoba untuk menang.

Kekalahan dari Setan Merah sangat menodai Anfield. Entah mengapa, bermain melawan Setan Merah selalu terasa sulit dalam beberapa tahun terakhir, 7–0 hanyalah masa lalu.
Kekalahan dari Lebah Merah pun menandakan bahwa Liverpool masih belum benar-benar menemukan jati dirinya.

Mari kita laporkan semua akun media sosial Liverpool dengan keterangan: “Berpura-pura sebagai klub sepak bola.”

Blog Terkait

© 2025 Aung Ramadhan. All Rights Reserved.
Powered by Indotify