Kita sering kali menjadi manusia yang manja begitu mudah mengeluh saat hidup terasa sedikit berat.
Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita tergesa-gesa menyalahkan nasib. Saat tubuh sedikit terasa sakit, kita merasa dunia tak adil. Dan ketika keinginan tak kunjung tercapai, kita lupa betapa banyak nikmat yang sudah kita miliki.
Rasanya, di saat seperti itu, kita perlu belajar malu pada Helen Keller seorang perempuan tuli, bisu, dan buta yang justru menulis dengan kejernihan yang menakjubkan:
“Begitu banyak yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Saya tidak punya waktu untuk menyesali apa yang tidak saya miliki.”
Betapa dalam kalimat itu.
Ia menegaskan, bahwa ukuran kebahagiaan bukanlah seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa besar kesadaran kita akan karunia yang telah diberikan.
Jika pikiran kita hanya berfokus pada kekurangan, hidup akan terasa gersang. Tapi bila kita mulai melihat apa yang telah dikaruniakan Tuhan, barulah mata kita benar-benar terbuka: bahwa di balik kekurangan, tersimpan anugerah yang luar biasa besar.
Hidup itu sendiri adalah karunia.
Kita sering baru menyadari nilainya ketika seseorang yang kita cintai telah tiada. Padahal setiap tarikan napas adalah kesempatan, setiap embusan udara adalah berkat.
Saya pernah mendengar seseorang harus membayar jutaan rupiah setiap bulan untuk cuci darah, karena aliran darahnya tak lagi bersih. Hanya untuk bisa tetap hidup, ia menanggung biaya dan rasa sakit yang besar.
Lalu saya berpikir betapa berharganya tubuh kita yang setiap hari bekerja dengan sempurna tanpa kita sadari. Bukankah itu karunia yang luar biasa?
Ada juga orang lain yang menghabiskan puluhan juta rupiah hanya untuk memperbaiki jantungnya.
Padahal, jantung yang berdetak di dada kita saat ini detik demi detik adalah tanda kehidupan yang terus berlangsung. Seandainya kita benar-benar mendengarkan, setiap denyut itu seolah berkata: “Aku masih bekerja untukmu. Hidupmu masih berlanjut.”
Tidakkah itu layak disyukuri?
Bahkan hal paling sepele sekalipun bisa menjadi pengingat.
Pernah saya mendengar tentang seseorang yang menghabiskan jutaan rupiah hanya untuk bisa buang angin. Terdengar lucu atau aneh, tapi kenyataan itu menampar kesadaran: betapa sering kita menyepelekan hal-hal kecil, padahal di situlah letak nikmat yang sesungguhnya.
Kita sering mencari hal besar untuk disyukuri, padahal karunia hidup tersembunyi dalam hal-hal sederhana dalam napas, dalam detak jantung, dalam kesehatan, dalam kemampuan untuk tersenyum, dalam waktu yang masih kita miliki hari ini.
Memang baik untuk bercita-cita tinggi, untuk berambisi, untuk memperjuangkan hal-hal yang belum tercapai. Tapi di atas semua itu, jangan sampai kita lupa bersyukur atas apa yang sudah ada dalam genggaman.
Untuk mencapai kemajuan hidup, kita memang harus melihat ke luar.
Tapi untuk merasakan kedamaian hidup, kita perlu belajar melihat ke dalam.
Karena di dalam sanalah letak karunia terbesar:
sebuah kehidupan yang masih bisa kita syukuri hari ini, sekarang, saat ini juga. 🌤️