Apa yang Akan Terjadi Jika Media Sosial Benar-Benar Diblokir Pemerintah?   November 19, 2025
Tags:

Pernah nggak kalian berpikir, apa yang akan terjadi jika benar-benar media sosial ataupun gim dibatasi bahkan diblokir oleh pemerintah?

Kalau soal gim, menurut saya sah-sah saja kalau memang dibatasi atau diblokir jika punya pengaruh langsung terhadap hal buruk atau menjadi penyebab tindakan negatif yang dilakukan masyarakat di suatu negara.

Tapi kalau media sosial, itu beda cerita. Media sosial, sesuai namanya, adalah platform digital yang memungkinkan pengguna membuat, berbagi, dan berinteraksi dengan konten secara online melalui teks, foto, video, dan lainnya. Jadi wajar kalau ada dampak positif maupun negatif.

Menurut saya, lebih baik jika pembatasannya dilakukan secara lebih spesifik, misalnya memblokir hasil pencarian seperti: bun*h d*ri, cara membuat b*mb, po*n*grafi, dan hal-hal berbahaya lainnya.

Namun jika diblokir secara keseluruhan, justru akan muncul masalah baru: PENGANGGURAN.

Kenapa? Karena di Indonesia, banyak konten kreator yang berhasil membuka lapangan pekerjaan baru untuk orang lain, seperti editor, penulis naskah, kameramen, dan sebagainya. Kalau media sosial diblokir, para kreator terpaksa pindah platform lain yang belum tentu memberikan hasil atau jumlah penonton yang sama. Ini bisa menyebabkan pengurangan karyawan. Bahkan jika semua media sosial diblokir, para kreator besar mungkin masih bisa bertahan karena sudah punya modal dan nama untuk membuka usaha lain seperti restoran atau toko. Tapi bagaimana dengan pegawai mereka?

Rata-rata pegawai kreator bukan direkrut berdasarkan ijazah atau lulusan tertentu, tetapi awalnya dari teman dekat, lalu dari teman ke teman, baru dibuka untuk umum. Mereka belajar editing, menulis, atau mencari angle kamera secara otodidak. Jika mereka tiba-tiba kehilangan pekerjaan, mereka akan bersaing dengan banyak orang lain yang punya gelar, pengalaman, atau akses “orang dalam”, dan belum tentu ada lowongan yang cocok. Padahal mereka tetap butuh penghasilan.

Kalau ada yang bilang “kan bisa jadi editor atau penulis naskah film?”, saya rasa itu belum cukup (bukan meremehkan), karena industri film punya standar tinggi dan biaya besar, sehingga mereka pasti memilih orang-orang yang lebih profesional atau sangat berpengalaman.

Itu baru dari sudut pandang konten kreator dan para crewnya.

Sekarang kita bahas sisi lain: Affiliate.
Apa itu affiliate? Affiliate adalah individu atau pihak yang bermitra dengan perusahaan untuk mempromosikan produk atau layanan dengan imbalan komisi. Mereka biasanya menggunakan platform seperti media sosial, blog, atau situs web untuk membagikan tautan khusus. Setiap kali terjadi penjualan melalui tautan itu, mereka mendapat komisi. Biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh ibu-ibu atau anak muda, pekerjaan ini bisa tanpa atasan / bekerja sendiri.

Mereka cukup membuat video atau mempromosikan barang, membagikan link, dan ketika ada yang membeli, mereka mendapat komisi.

Kalian bisa lihat di platform seperti TikTok, Facebook, atau Instagram, banyak video review barang atau cari tagar seperti #racunshopee.

Instagram
Instagram
Tiktok
Tiktok
Facebook Group
Facebook Group

Selain itu, masih banyak pekerjaan online lainnya seperti: graphic designer, digital marketing, software engineer, web developer, tutor online, dan lain-lain. Media sosial membantu memunculkan atau mempromosikan pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Lalu bagaimana kalau media sosial diblokir?
Kalian tentu bisa memikirkan sendiri akibatnya.

Pemerintah?
Lapangan pekerjaan online bukan dibuat oleh pemerintah, tapi oleh konten kreator dan pemilik brand/toko online. Ada orang yang bilang pemerintah pasti menyediakan solusi jika media sosial dibatasi, tapi dia tidak menyebutkan solusinya seperti apa. Saya sendiri sempat kaget dan tertawa miris membaca pendapat itu.

Padahal justru pemerintah banyak terbantu dengan adanya media sosial, termasuk dari sisi pekerjaan online.

Sebagai masyarakat, saya sulit percaya sepenuhnya. Untuk membuat pabrik bekerja sama dengan investor atau perusahaan asing persyaratannya banyak seperti negara nomor satu di dunia. Belum lagi oknum pungli, Mau bangun pabrikpun masih dimintai uang keamanan.

Termasuk para host atau pekerja livestream di TikTok dan Shopee, mereka juga akan terdampak.

Ayo teman-teman, kita harus melek bahwa media sosial juga membawa dampak positif besar. Media sosial terhubung dengan platform lain, termasuk jual beli seperti Shopee. Kenapa? Karena affiliate yang saya jelaskan tadi.

Kalau dijelaskan lebih singkat begini:

Misal kamu sudah punya akun Facebook sejak lama dan punya banyak teman serta gabung berbagai grup. Lalu kamu membuat akun Instagram.
Bagaimana supaya Instagram kamu bisa di-follow teman-teman Facebook?
Tentu dengan membagikan link atau membuat status untuk mempromosikan akun instagrammu.

Dari sini kita bisa sedikit paham betapa pentingnya keterhubungan antar media sosial.

Awalnya kita cuma membahas “bagaimana kalau media sosial dibatasi atau diblokir”, tetapi ternyata merembet ke daya beli masyarakat.

Memang benar saat ini perputaran uang banyak terjadi online, tapi bukan berarti daya beli menurun. Jual-beli online tetap aktivitas ekonomi. Uangnya tetap berputar, hanya caranya berubah dari offline ke online.

Justru banyak pekerjaan baru muncul seperti: digital marketing, content creator, logistik, kurir, dan lainnya. Tapi masih banyak orang malas belajar hal baru atau malu jadi kurir, padahal pekerjaan ini justru menyelamatkan banyak orang dari pengangguran.

Teman saya banyak yang akhirnya bekerja sebagai kurir setelah lama gagal melamar pekerjaan ke sana-sini.

Harga online yang lebih murah membuat daya beli masyarakat sebenarnya meningkat. Barang lebih terjangkau, orang bisa membeli lebih banyak, dan banyak yang bisa menghemat. Kekurangannya, orang kaya bisa semakin kaya, misalnya artis atau toko besar yang lebih mampu menarik pembeli dibanding toko kecil.

Memang benar beberapa toko kecil di sekitar rumah kita jadi menurun karena orang lebih memilih belanja online (kecuali kalau perlu cepat). Tapi ada juga ibu-ibu cerdas yang menstok barang-barang viral lalu dijual kembali dengan keuntungan. Teman ibu saya seperti itu. Jika saya butuh cepat, saya beli ke beliau. Artinya, muncul pekerjaan baru dan uang tetap berputar.

Produsen yang menjual langsung tanpa perantara bukan tanda ekonomi melemah, tapi tanda efisiensi: biaya logistik turun, harga turun, margin naik, konsumen puas. Ini proses evolusi ekonomi.

Saya sempat kepikiran begini:
Jual-beli bisa dibuat berbasis wilayah terdekat terlebih dahulu. Jadi ketika mencari produk, yang muncul lebih dulu adalah penjual dari kota atau wilayah terdekat. Kalau tidak ada, baru diperluas ke kota sebelah atau provinsi lain. Dengan cara ini, orang terdorong membuat toko online, bahkan muncul pekerjaan baru sebagai admin toko online.

Jadi masalahnya bukan “jual beli online mematikan ekonomi”, tapi model bisnis lama yang sedang berubah mengikuti zaman. Negara tanpa jual beli online? Kacau. Semua negara sudah punya platform belanja online.

Bagaimana dengan offline?
Belanja kebutuhan harian masih banyak yang ke pasar atau minimarket.
Elektronik? Banyak yang tetap beli offline karena bisa dicoba, dan garansi jelas. Saya sendiri begitu.

Kalau bicara daya beli turun, faktor nomor satu yang paling berpengaruh menurut saya adalah jud*l, bukan toko online. (toko online mungkin faktor yang ke-2 atau ke-3)

Uang yang seharusnya dipakai belanja, makan, nongkrong, malah habis buat jud*l. Ujung-ujungnya pinjaman online, dan muter di situ terus.

Makanya ada paylater. Saat uang untuk belanja atau harian habis untuk jud*l, orang tetap bisa belanja online pakai paylater.

Pada akhirnya dunia online akan diwarisi generasi baru yang pasti (menurut saya) akan tertarik belajar bisnis atau pekerjaan online.

Sebelumnya saya mohon maaf untuk para pedagang yang sedang melalui masa sulit. Tulisan ini bukan untuk merendahkan atau tidak menghargai.

Tanah Abang sepi, banyak mall tutup, dan pasar tradisional menurun itu fakta. Tapi bukan bukti bahwa daya beli turun karena online, melainkan karena pola belanja masyarakat berubah. Dulu minimarket muncul, banyak warung kecil kalah. Sekarang giliran e-commerce.

Kita yang harus mengikuti zaman, bukan zaman yang mengikuti kita.

Banyak pedagang offline ketika disarankan membuka penjualan online jawabnya:
“Ah ribet…”
“Gak paham mas…”

Padahal pembelinya sudah berubah. Lebih sibuk, lebih mageran, ingin lebih praktis, lebih suka klik-klik daripada jalan-jalan.

Di banyak daerah, pasar tradisional tetap hidup karena mereka ikut beradaptasi. Stok barang dibeli online dan ketika sampai besoknya sudah ada dipasar. Artinya online adalah alat, bukan ancaman.

Soal ruko yang tutup, penyebabnya bukan satu: selain online, persaingan juga makin banyak. Jumlah manusia bertambah, usaha ikut tumbuh, tapi tidak semua kuat bertahan.

Jadi intinya:
Bukan onlinenya yang mematikan, tapi siapa yang siap berubah dan siapa yang tetap memakai cara lama.

Yang tidak mau belajar ya pasti tertinggal.
Tapi yang mau adaptasi, justru bisa lebih maju dari sebelumnya.

*Update*

Saya juga sebenarnya kurang mengerti, padahal TS kan cuma nanya:

“Bagaimana perasaanmu jika YouTube diblokir di Indonesia?”

“Apa tanggapanmu bila Facebook, Instagram, dan game online dibatasi di Indonesia?”

Dan saya sudah menjawabnya panjang seperti postingan di atas.
Mungkin dia membaca postingan itu bertepatan dengan kejadian Cloudflare yang sedang melakukan perbaikan/maintenance tanggal 18/11/2025, lalu mengira pemerintah benar-benar sedang mencoba memblokir Sosial Media. Padahal yang terjadi bukan itu sama sekali.

Cloudflare itu penyedia layanan DNS/domain, jadi banyak situs yang menggunakan DNS Cloudflare akan error kalau Cloudflare mengalami gangguan atau maintenance. Tapi kalau sebuah domain diarahkan langsung ke alamat IP server (VPS/hosting) atau menggunakan nameserver sendiri, ya tetap aman.

Contohnya:

Facebook/WhatsApp/Instagram/Threads milik Mark Zuckerberg tidak pakai DNS Cloudflare, jadi mereka aman.

X/Twitter menggunakan DNS Cloudflare, makanya ikut error kemarin.

Dan Cloudflare kemarin bukan error khusus Indonesia, tapi sedunia.
Bisa dicek di cloudflarestatus․com.

Kenapa saya tahu?

Karena saya juga menggunakan DNS Cloudflare untuk domain-domain saya.

Bahkan domain ini aja kemarin ikut gak bisa diakses gara-gara pakai DNS Cloudflare Jadi jelas, itu nggak ada hubungannya dengan postingan TS.

Memang Cloudflare sedang melakukan perbaikan teknis, bukan pemerintah yang memblokir media sosial.

*Terakhir*

Kalimat “seharusnya teknologi mengikuti bagaimana manusianya. Bukan manusianya yang diperbudak oleh teknologi.”

Sudah cukup untuk mengakhiri diskusi kali ini, dan tertawa riang gembira menyambut hari.

Blog Terkait

© 2025 Aung Ramadhan. All Rights Reserved.
Powered by Indotify